Bandung
Jumat, 9 November 2007
07:00 WIB
Ya, saya sedang di Bandung. Santai. Saya sebenarnya sudah berada di Bandung sejak minggu lalu. Tapi dengan alasan kesibukan, maka saya baru bisa menulis di blog lagi hari ini.
Saya punya sedikit cerita. Minggu lalu saya berangkat dari Jakarta hari Rabu tanggal 31 Oktober 2007 dari Jakarta menuju Bandung dengan menggunakan mobil Toyota Soluna. Jam 4 sore saya mulai masuk jalan tol Jakarta-Cikampek. Saat masuk tol, awan mendung yang tadinya membayang di langit akhirnya semakin menghitam dan berubah menjadi hujan deras dibarengi gemuruh petir. Semua pengendara mobil mengurangi laju kecepatannya dan menyalakan lampu mobil, termasuk saya. Kebetulan saat itu tol sedang padat tetapi lancar. Memasuki kilometer 4, jalanan semakin ramai dan hujan makin deras. Lajur paling kanan yang harusnya lajur cepat pun macet dan mobil saya yang berada di situ pun berhenti. Saya perhatikan mobil yang sedang berhenti di depan saya adalah mobil Isuzu Panther. Saya melihat ke belakang melalui spion, ternyata di belakang mobil saya tidak ada mobil lain. Kosong. Saat itulah perasaan waswas menyerang. Tiba-tiba saya melihat ada mobil melaju kencang dari belakang saya. Setelah pengalaman beberapa kali ditabrak dari belakang, saya pun langsung membanting setir ke kanan ke arah pembatas tol dengan harapan sekiranya pun saya ditabrak oleh mobil belakang, paling tidak mobil saya tidak akan hancur terhimpit antara mobil depan dan belakang. Dan, akhirnya, benar firasat buruk saya. Mobil saya ditabrak dengan kecepatan tinggi dari belakang. Hebat. Seperti di film laga yang sering yang lihat. Bedanya, kali ini sayalah bintangnya. Sukses.
Tak perlu saya ceritakan detail selanjutnya. Yang jelas mobil saya hancur. Mobil Soluna saya kehilangan keindahannya. Kalau dilihat dari samping, mobil Soluna saya sudah tampak seperti Toyota Starlet. Tak ada bokongnya. Jelas biaya yang harus dikeluarkan untuk perbaikan akan mahal sekali. Ada saran dari seorang teman, katanya potong saja buntutnya sekalian lalu jadikan mobil Honda Jazz. Tak terpikir oleh saya. Brilian. Tak sia-sia saya punya teman. Kenapa tak sekalian saja saya minta dia yang mengubah mobil saya?
Akhirnya setelah kejadian itu saya tidak ke Bandung. Saya terpaksa tinggal di Jakarta dan baru berangkat ke Bandung keesokan harinya. Tidak, kali ini saya tidak menyetir mobil sendiri. Saya naik X-Trans. Ngomong-ngomong, sekian dulu saja. Saya lapar. Kalau di Bandung, terpaksa cari makanan di luar. Tidak ada yang memasakkan di sini. Mungkin kali ini saya akan pergi ke warung Indomie rebus pinggir jalan langganan saya.




